http://terbagus.info/wp-content/uploads/2016/01/banner728.jpg
http://niadesain.biz/banner/User.gif

Pembangunan Pertanian Lampung Tengah Melalui Peningkatan Produksi Tahun 2016

Jumat, Desember 9th 2016. | Ekonomi & Niaga, Fokus, Lampung, Pertanian

Wakil Bupati Loekman Djoyosoemarto saat meninjau pesawahan di Kecamatan Trimurjo

Lampung Tengah sebagai salah satu kabupaten yang terluas di Provinsi Lampung, memiliki jumlah penduduk mencapai 1.411.922 jiwa dengan luas wilayah 4.789,82 Km.

Bagi Lampung Tengah, pangan merupakan kebutuhan yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia untuk dapat hidup sehat dan produktif, sehingga pemenuhannya tidak dapat ditunda-tunda.

Beragam potensi sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Lampung Tengah, terus dikembangkan dan ditingkatkan produktivitas dan kualitasnya, sebagai menjaga ketersediaan pangan. Keberhasilan pembanguan di daerah tidak hanya ditandai oleh pesatnya pembangunan infrastruktur, tetapi juga keberhasilan meningkatkan produksi pangan, untuk mencapai kemandirian pangan sejalan dengan program pemerintah pusat.

Salah satu tujuan pembangunan pertanian adalah menjaga agar ketahanan pangan tetap terkendali, mengingat kebutuhan pangan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, sementara disisi lain laju peningkatan produksi pangan berjalan lambat. Oleh karena itu, untuk menekan ketergantungan pangan yang bertumpu kepada beras, Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah, telah berupaya mengembangkan beragam potensi pertanian bisa menjadi alternative pangan selain beras.

Menurut Bupati Lampung Tengah Mustafa, ketersediaan pangan dari beragam sumber tanaman pangan dan hortikurtura di Kabupaten Lampung Tengah, seperti padi-padian, umbi-umbian, sayuran dan buah-buahan, tanaman perkebunan seperti tebu (gula), minyak goreng, dan peternakan serta perikanan seperti daging dan ikan, secara umum tersedia cukup bahkan cenderung surplus produksinya.

Namun demikian, antisipasi terhadap krisis pangan tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan laju pertumbuhan penduduk yang rata-rata sebersar 1,3 % pertahun dan berkurangnya faktor produksi seperti luas lahan pertanian dan SDM.

”Pembangunan ketahanan pangan merupakan tanggungjawab bersama, untuk mendukung keberhasilan di bidang ketahanan pangan harus terbangun rasa kebersamaan dengan melepas semua ego sektoral instansi terkait yang terlibat,”katanya.

Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi individu dan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya aman merata dan terjangkau, sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No.7 Tahun 1996. Ketahanan harus dapat diwujudkan secara mandiri, agar menjadi sumber mata pencaharian dan bahan pangan dapat tersedia secara lokal.

Ketahanan pangan mempunyai dimensi pengaruhnya yang sangat luas baik ke sektor politik, ekonomi maupun sosial di suatu daerah atau negara. Artinya, stabilitas suatu daerah atau negara, akan sangat tergantung pada kecukupan pangan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhinya.

Untuk mengetahui keberhasilan Lampung Tengah dalam melaksanakan pembangunan di bidang ketahanan pangan dapat dilihat dari skor Pola Pangan Harapan (PPH), Ketersediaan Pangan Utama (beras) per kapita per tahun, dan ketersedian energi, lemak dan protein.

Pada tahun 2015 Skor PPH Kabupaten Lampung Tengah mencapai 82,9 persen atau mengalami penurunan  sebesar 2,1 persen dibandingkan dengan tahun 2014 yang sebesar 85  persen. Hal ini disebabkan ketersediaan produksi pangan hewani yang mengalami penurunan dibandingkan dengan produksi tahun lalu. Untuk mencapai skor ideal PPH 100 yang diharapkan dapat dicapai paling lambat pada tahun 2020, diperlukan strategi tepat sebagai upaya agar tetap dapat meningkatkan capaian skor PPH kelompok pangan padi-padian, umbi-umbian, minyak.

Pada tahun 2015 Ketersediaan Pangan Utama (beras) sebesar 476.828 ton atau rata-rata 476, 83 kg per kapita per tahun, meningkat sebesar 0,88 persen dibandingkan pada tahun 2014 sebesar 419.038 ton per tahun. Hal ini disebabkan ketersediaan pangan padi padian meningkat. Sedangkan apabila dilihat dari ketersedian energi , lemak dan protein pada tahun 2015  rata-rata mengalami penurunan dibanding tahun 2014. Ketersediaan energi perkapita perhari menurun dari 17.134,48  kalori menjadi 14.044,4 kalori hal ini dikarenakan adanya penurunan pada ketersediaan produksi pangan hewani.

Sedangkan ketersediaan lemak perkapita perhari juga menurun  dari 172,57 gram di tahun 2014 menjadi 167,33 gram di tahun 2015 hal ini dikarenakan produksi minyak seperti minyak goreng, minyak sawit, lemak hewani menurun pada tahun 2015. Begitu pula Ketersediaan protein juga mengalami penurunan dari 252,93  gram menjadi 233, 1 gram di tahun 2015. Hal ini disebabkan produksi pangan hewani seperti telur dan daging menurun sehingga berakibat menurunnya pula ketersediaan protein per kapita per hari.

Namun demikian, tak dapat dimungkiri Lampung Tengah masih mengalami kekurangan ketersediaan pangan kacang hijau dengan kekurangan produksi 295 ton, dan kacang kedelai terjadi kekurangan produksi untuk konsumsi sebayak 18.785 ton yang di peroleh dari luar Kabupaten Lampung Tengah atau impor. Ketersediaan gula juga mengalami defisit (kekurangan) sebanyak 1.095 ton, dan untuk kacang tanah kekurangan produksi sebesar 10.987 ton. Ketersediaan pangan telur juga tidak cukup untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi penduduk karena terjadi kekurangan produksi telur sebanyak 6.144 ton yang di datangkan dari luar Kabupaten Lampung Tengah.

Program dan kegiatan pembangunan di bidang ketahanan pangan diarahkan untuk meningkatkan fungsi kelembagaan pangan yang menjamin peningkatan produksi, ketersediaan dan distribusi serta konsumsi pangan yang lebih beragam.

Lalu, meningkatkan kemampuan kelompok tani meningkatkan keanekaragaman konsumsi pangan sumber karbohidrat non beras dan pangan sumber protein, serta ketersediaan gizi dan pangan bagi masyarakat. ”Banyak faktor yang harus dikembangkan dalam pembangunan ketahanan pangan, termasuk  meningkatkan fungsi koordinasi Dewan Ketahanan Pangan, serta tersedianya pelayanan jasa sarana dan prasarana sebagai landasan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.

Keberadaan Badan Ketahanan Pangan diharapkan mampu merumuskan kebijakan teknis di bidang Ketahanan Pangan, serta memberikan dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang Ketahanan Pangan. Pada akhirnya diharapkan terwujudnya desa mandiri pangan, dimana masyarakatnya mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi melalui pengembangan dan memanfaatkan sumberdaya lokal atau setempat secara berkelanjutan, sehingga mampu mengurangi kerawanan pangan dan gizi.

“Kata kunci untuk keberhasilan membangun ketahanan pangan tidak hanya bertumpu kepada kebutuhan finansial dan ketersediaan sumberdaya alam, tetapi kebersamaan dan kekompakan dalam meningkatkan sinergi juga akan sangat dibutuhkan,” katanya.

Bupati Mustafa saat menghadiri panen raya

RENCANA 2017

 Sementara itu guna meningkatkan produksi pertanian pada tahun 2017, Pemerintah juga merencanakan memberikan stimulant kepada petani berupa :

  1. Bantuan
  2. Benih Padi Hibrida sebanyak 150.000 kg untuk 10.000 Ha
  3. Benih Padi Inbrida sebanyak 500.000 kg untuk 20.000 Ha
  4. Benih Jagung sebanyak 300.000 kg untuk 20.000 Ha
  5. Intensifikasi Ubi kayu untuk 1.000 Ha
  6. Bantuan Rehab dan pengembangan irigasi
  7. Rehabilitasi Jaringan Irigasi tersier sebanyak  000 ha
  8. Pengembangan Embung Pertanian sebanyak 18 unit
  9. Pengembangan Irigasi Perpipaan/Irigasi perpompaan sebanyak 20  unit
  10. Pengembangan Irigasi Rawa sebanyak 135 ha
  11. Pengembangan Jalan Pertanian sebanyak 15 unit
  12. Pembuatan Sumur Bor sebanyak 25 unit
  13. Sarana Pendukung BBI Padi Palawija sebanyak 1 Paket
  14. Sarana Pendukung BBI Hortikultura sebanyak 1 Paket
  15. Bantuan Alsintan Rice Transplanter sebanyak 20 unit

Dalam meningkatan pendapatan petani pemerintah juga mengupayakan bantuan, yaitu:

  1. Melalui Pengelolaan dan Pemasaran Hasil (komoditas nanas, sawo dan cabe) berupa pemberian bantuan peralatan pengolahan hasil, yaitu : Vaccum frying/open, Packing, Sealer, blender/mixer.
  2. Pengembangan kawasan hortikultura ramah lingkungan, yaitu dengan memberikan bantuan bibit sawo. (TI)
Share Button

Related For Pembangunan Pertanian Lampung Tengah Melalui Peningkatan Produksi Tahun 2016