http://terbagus.info/wp-content/uploads/2016/01/banner728.jpg
http://niadesain.biz/banner/User.gif

Pemkab Lamteng Kembangkan Agrobisnis dan Agroindustri Berbasis Kerakyatan

Jumat, Juni 10th 2016. | Ekonomi & Niaga, Iklan
Musawir Subing, perintis pengembangan tanaman buah Naga di Lampung Tengah

Musawir Subing, perintis pengembangan tanaman buah Naga di Lampung Tengah

Paradigma Pemerintahan Presiden Jokowidodo (Jokowi) saat ini adalah menggerakkan kemampuan masyarakat untuk ikut serta dalam pembangunan, atau yang lebih dikenal dengan istilah ”Pembangunan dari Pinggir”.

Terkait dengan program dimaksud, Pemerintah Kabupaten (Pemkab Lampung Tengah), menyambut wacana tersebut dengan menyinergikan pembangunan yang ada di wilayah Kabupaten Lampung Tengah. Salah satu kawasan yang di support oleh Pemkab Lampung Tengah adalah mendukung wilayah Kecamatan Terbanggi Besar, diantaranya Kampung Indra Subing diproyeksikan menjadi sentra pengembangan agrobisnis buah naga.

Diatas lahan seluas 1,5 Ha tanaman buah Naga saat ini telah produksi, dengan masa panen setiap 3 (tiga) minggu sekali. Pengembangan budidaya tanaman buah Naga ini dilakukan secara swakelola oleh masyarakat setempat. Pemasaran buah Naga selain memenuhi perimintaan konsumen Kota Bandar Lampung, juga telah merambah ke wilayah Sumatera Selatan dan Jakarta.

Saat ini tanaman buaha Naga bukan hanya dikembangkan di Kampung Indra Subing saja, tetapi juga sudah ditanam oleh sejumlah warga di kelurahan Bandarjaya Barat, Bandarjaya Timur dan Kelurahan Seputihjaya, dengan memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah. ”Sesuai kondisi alamnya, kedepan Kecamatan Terbanggi Besar benar-benar akan menjadi sentra buah Naga,”kata Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lampung Tengah, A.Nasir AT.

Bukan hanya buah Naga yang akan dikembangkan di Lampung Tengah. Tetapi juga pengembangan industri olahan ikan lele dan tanaman bawang merah di Kecamatan Kota Gajah mendapat perhatian serius Pemkab Lampung Tengah. Winaka tak lain nama dari Wanita Mina Karya Luhur (Winaka) adalah Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) hasil perikanan, yang beralamat di Kampung Kota Gajah Timur Kecamatan Kota Gajah, telah mengembangkan beragam panganan berbahan dasar ikan lele. Beberapa varian makanan olahan ikan lele produksi Poklahsar Winaka Kotagajah, meliputi nugget lele, bakso lele, krispy lele, keripik kulit lele, keripik tulang lele, abon lele, Winaka juga menerima pesanan olahan lainnya seperti sate lele, dawet lele, donat lele.

Selama ini Kabupaten Lampung Tengah adalah penghasil ikan lele dan ikan air tawar lainnya yang pemasarannya terbesar di Provinsi Lampung, bahkan menjadi pemasok bagi daerah sekitarnya seperti Sumatera  Selatan, Jambi. Budidaya ikan lele selain memiliki nilai yang cukup ekonomis juga kandungan proteinnya yang tinggi. Lele, cenderung lebih gurih dan enak dan dagingnya pun lebih banyak.

Saat ini, makan ikan lele tidak lagi hanya dalam bentuk utuh yang tersaji di meja, tapi banyak yang telah menjadi makanan olahan siap saji. Dengan makanan lele yang telah menjadi olahan akan menjadi menarik terutama bagi anak-anak yang kurang suka makan ikan. ”Ikan lele kedepan tidak lagi dipasarkan dalam bentuk ikan segar, tetapi sudah berupa makanan olahan seperti nugget, bakso, abon, krispy dan lainnya. Ini tentunya merupakan peluang investi baru di Lampung Tengah,”katanya.

Selain itu lanjut Nasir, Pemkab Lampung Tengah akan menyupport pengembangan tanaman buah nanas di Kecamatan Punggur dengan mendorong agroindustri olahan buah nanas yang telah dikembangkan oleh kelompok wanita tani (KWT). Selama ini, buah nanas sebagai buah segar sudah dipasarkan ke Sumatera Selatan, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, juga dibuat olahan buah nanas. Tanaman nanas nanas sudah menjadi komoditas unggulan di Kampung Astomulyo, Kecamatan Punggur, yang dikembangkan di lahan kering atau tegalan yang tidak dapat dikembangkan tanaman padi, dan juga memanfaatkan pekarangan rumah.

Wiratno, petani nanas Kampung Astomulyo, Punggur

Wiratno, petani nanas Kampung Astomulyo, Punggur

Tanaman nanas, mulai dikembangkan oleh warga sekitar tahun 1983, saat itu peminat tanaman ini belum banyak seperti sekarang. Tanaman nanas mulai di gemari  petani sekitar tahun 1990-an dengan varitas Queen. Luasan tanaman nanas yang dikembangkan petani Dusun 10 Kampung Astomulyo saja, mencapai lebih dari 350 ha. Setelah diketahui budidaya tanaman nanas cukup bagus dan mempunyai prospek ekonomis yang menjanjikan, akhirnya bukan hanya petani Astomulyo saja yang mengembangkannya, tapi sudah diminati oleh beberapa petani Kampung Mojopahit dan Ngestirahayu Kacamatan Punggur. Kini, beberapa panganan olahan industri rumahan dari buah nanas, seperti dodol nanas, kripik nanas, cake nanas sudah dikembangkan oleh KWT setempat. ”Pengepakan makan olahan industri rumah tangga ini sudah memenuhi standar yang disyaratkan dan telah memiliki izin produksi. Untuk industri keripik singkong, pengembangannya akan di fokuskan di Kecamatan Gunung Sugih,”katanya.

Pemkab Lampung Tengah, melalui Bappeda Lampung Tengah saat ini tengah menyiapkan kajian bagi pengembangan agribisnis dan agroindustri yang berbasis kerakyatan, yang kemudian akan menjadi acuan regulasi pengembangan sektor industri hortikultura di wilayah Kabupaten Lampung Tengah, termasuk stimulan pendanaan dan perluasan areal tanam. ”Diharapkan acuan regulasi tersebut nantinya akan menjadi pijakan bagi pemerintah pusat dan provinsi, serta kalangan swasta, dalam mendukung program dan pengembangan investasi agribisnis di Kabupaten Lampung Tengah,”tandas Nasir. (Ti/adv).

 

Share Button

Related For Pemkab Lamteng Kembangkan Agrobisnis dan Agroindustri Berbasis Kerakyatan